LP3ES

Friday
Sep 22nd
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Demokrat Bisa Lepas dari Bayang-bayang SBY

E-mail

ImageKETERPILIHAN Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat menyisakan tanda tanya besar. Apakah ia hanya akan menjadi boneka Susilo Bambang Yudhoyono atau memiliki peran besar untuk menentukan arah perjalanan partai? Kepala Divisi Penelitian LP3ES, Fajar Nursahid, menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dalam perbincangan dengan Suara Merdeka. Berikut petikan wawancara itu.

 

Apa komentar Anda tentang kemenangan Anas?
Kemenangan Anas adalah buah dari keuletan dan kerja keras. Hal ini sekaligus pula cerminan dari kemenangan manajemen politik natural atas manajemen modern. Kita sama-sama tahu di belakang Andi Mallarangeng ada Fox, sebuah konsultan politik ternama. Mereka bekerja sangat profesional dan modern, melibatkan kampanye media yang sedemikian masif.

Andi juga disokong penuh oleh seluruh kekuatan politik Demokrat yang berafiliasi dengan Cikeas. Semua menteri dari Partai Demokrat yang ada di kabinet mendukungnya. Belasan purnawirawan jenderal yang menjadi kolega SBY juga mendukung Andi.  Sinyal dukungan keluarga Cikeas juga kentara melaui keterlibatan putera SBY, Ibas, dalam kampanye-kampanye Tim Andi ke daerah-daerah.

Tak berhenti di situ. Infrastruktur pendanaan yang mengalir ke kubu ini juga kurang lebih sama dengan infrastruktur pendanaan pemilu legislatif dan pemilu presiden yang telah memenangkan Partai Demokrat dan SBY. Dari sudut ini, dapat dikatakan di atas kertas mestinya Andi di atas angin.

 

Bukankah survei LP3ES telah memprediksi kemenangan Anas?

Benar. Jika banyak pengamat melakukan prediksi berdasarkan common-sense  sehingga menempatkan Andi sebagai bakal pemenang, data survei LP3ES justru mengatakan sebaliknya. Menjelang pelaksanaan kongres Partai Demokrat, kami melakukan survei dua kali ditujukan kepada ketua-ketua DPD/DPC Partai Demokrat se-Indonesia.

Dominasi Anas terhadap dua kandidat lain: Marzuki Alie dan Andi Mallarangeng, terkonfirmasi melalui kedua survei tersebut. Survei ini tentu saja akurat karena ditanyakan kepada hampir seluruh populasi (96 persen) dan pada dasarnya merupakan sebuah sensus, sehingga tidak ada simpangan toleransi kesalahan (margin of error) sebagaimana survei-survei biasa.

Analisis kami saat itu, berdasarkan konfirmasi lapangan, para pendukung Marzuki Alie melakukan aksi "keep silent" dan cenderung tidak terbuka. Angka-angka ini, kurang lebih memiliki tren yang sebangun dengan hasil kongres.


Banyak yang menginginkan Partai Demokrat mulai melepaskan diri dari bayang-bayang SBY. Apakah Anas mampu untuk menjawab keinginan tersebut? Apakah Demokrat bisa lepas dari bayang-bayang SBY?

Menurut saya itu adalah suatu keharusan. Salah satu esensi partai politik adalah depersonalisasi figur. Partai dibangun untuk menghimpun kekuatan kolektif, bukan menonjolkan personal. Meski dalam batas tertentu figur kunci diperlukan dalam partai. Untuk itu, ke depan, pelan-pelan ketergantungan terhadap figur SBY harus dilepaskan. Apalagi, masa SBY kan tinggal kurang lebih lima tahun lagi. Oleh karena itu, membangun infrastruktur dan sistem internal partai yang kuat menjadi kunci jika Demokrat mau tetap eksis dan besar.  

Sosok Anas, saya kira, mampu menjawab tantangan di atas. Periode ini harus dimaknai sebagai periode transisi untuk menyiapkan landasan yang kokoh bagi Demokrat untuk melompat dari partai figur ke partai yang berbasis sistem. Dari lapangan, kami mendapatkan banyak catatan, termasuk keinginan sejumlah DPC untuk meniru model partai kader seperti PKS yang figurnya berganti-ganti tetapi sistem relatif terjaga.

Kalau ini bisa diupayakan dengan sungguh-sungguh, lalu konsisten dengan visinya untuk membangun partai modern, saya kira Demokrat bisa lepas dari bayang-bayang SBY. Tapi itu pelan-pelan dan butuh waktu. Karena itu sebut saja ini periode transisi.

 

Menurut Anda, apa kelemahan dan keunggulan Anas?

Anas dikenal sebagai politisi yang kalem dan santun. Di antara kandidat lain, sosoknya dianggap paling mewarisi karakteristik SBY. Kesan ini begitu kuat di kalangan DPC-DPC. Karena itulah mayoritas DPC memilihnya. Selain itu, Anas adalah sosok yang cerdas.

Gagasannya banyak termuat di berbagai media massa karena dia adalah kolumnis dan beberapa buku juga sudah dia tulis. Dalam konteks ini, dia adalah politikus-intelektual yang jarang.  Anas, adalah juga sosok yang matang dalam organisasi. Pengalamannya memimpin HMI dengan track record yang relatif baik merupakan salah satu bukti kematangan dalam berorganisasi.

Kelemahannya --kalau itu boleh dibilang kelemahan-- adalah tipenya yang "man of thinking." Dalam praktik politik, kadang dibutuhkan solusi cepat dan tindakan tepat. Sama seperti SBY, model semacam ini perlu ditopang oleh sosok "man of action" sehingga kebijakan dan program bisa terimplementasi dengan baik.  

Kelemahan lainnya, di balik kemenangannya, bukan tidak mungkin banyak kekuatan yang mengikat Anas atas dukungan politik, finansial dan lain-lainnya. Karena itu, tantangan bagi Anas untuk tidak terperangkap oleh kekuatan-kekuatan yang telah mengijon dirinya, sehingga terjadi politik balas budi yang tidak proporsional.

Apakah penyusunan kabinet yang harus  menunggu sampai pulangnya SBY melawat dari Norwegia adalah bukti kelemahan Anas? Juga dengan adanya majelis tinggi Partai Demokrat apakah ini akan mereduksi peran Anas?

Menurut saya hal ini tergantung darimana cara melihatnya. Menurut saya, siapa pun yang terpilih --bukan saja Anas-- dalam menyusun kabinet harus melakukan politik akomodasi supaya tidak terjadi perpecahan politik. Ini semua harus dipastikan Anas, termasuk memperhatikan SBY sebagai Ketua Dewan Pembina.

Saya kira ini bukan terjadi di Demokrat saja. Di partai-partai lain, tradisi adanya orang kuat juga selalu ada. Kita lihat saja di PAN dengan Pak Amien Rais, di PDI-P ada Bu Mega, di Hanura ada Pak Wiranto, Gerindra ada Pak Prabowo, dan di PKB dulu ada mendiang Gus Dur. Itu adalah kenyataan politik yang ada di Indonesia, suka tidak suka.

Terkait dengan keberadaan Majelis Tinggi, bisa diartikan bagaimana keputusan-keputusan strategis partai seperti penentuan calon presiden dan calon kepala daerah dilakukan secara kolegial. Dalam perspektif ini, saya kira itu absah, terlebih berkaca dari pengalaman demokrat selama ini yang kedodoran dalam pilkada.

Sebagai salah satu sosok yang diharapkan mengonstruksi kebesaran Partai Demokrat, apa yang harus segera Anas lakukan?


Yang paling penting adalah membenahi infrastruktur partai. Kita sama-sama tahu, kemenangan demokrat pada pemilu lalu lebih karena ditopang figur SBY. Namun demikian, peran SBY sebagai figur sentral dan magnitude bagi Partai Demokrat ini sekaligus juga disadari menjadi masalah paling mendasar dihadapi partai ini sekarang.

Hal ini  terkonfirmasi pula lewat survei LP3ES. Masalah ketergantungan pada figur SBY ini dianggap oleh para elite Demokrat di daerah sebagai masalah mendasar yang harus diselesaikan (dinyatakan oleh 28,5 persen responden), di samping masalah jaringan infrastruktur partai yang belum mengakar (17,7 persen). Kuatnya ketergantungan terhadap figur  SBY juga berimplikasi terhadap masalah lain terkait dengan krisis kepemimpinan pasca-SBY (15,8 persen) dan persoalan kaderisasi dan kepengurusan (15 persen).

Hal lain yang juga perlu dilakukan Anas ke depan adalah menimbang perlunya desentralisasi kebijakan sehingga akomodasi terhadap kepentingan kepengurusan daerah atau cabang dapat lebih dikedepankan. Juga harus membangun positioning partai yang lebih  memperjuangkan aspirasi masyarakat kelas bawah.

Sebagai Ketua partai termuda, bagaimana kiat Anas menghadapi lawan-lawan politik yang lebih tua dan berpengalaman?


Anas harus percaya diri. Meskipun muda, tetapi dia kan membawa gerbong partai besar. Ini penting untuk dia yakini dan diinternalisasi dalam praktik politik, sehingga ukuran dalam membangun relasi dan komunikasi politik dengan partai-partai lain tidak ditentukan atas tua-mudanya figur ketua, melainkan atas dasar besar-kecilnya mandat rakyat yang telah diberikan kepada partai-partai politik.


Selain itu, Anas dapat memanfaatkan jaringan organisasi yang pernah dipimpin. (35)

Sumber: suaramerdeka.com Edisi 30 Mei 2010

 

Optimalkan Lahan Untuk Ketahanan Pangan

Optimalkan Lahan Untuk Ketahanan Pangan

Oleh: Mahyudi Mahar

Maraknya fenomena alih fungsi lahan pertanian sudah seyogyanya jadi perhatian semua pihak. Sebagai ilustrasi, data terakhir dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air, Departemen Pertanian, menunjukkan bahwa sekitar 187.720 hektar sawah beralih fungsi ke penggunaan lain setiap tahun, terutama di Pulau Jawa. Sementara Badan Pertanahan Nasional, menggambarkan bahwa total lahan sawah beririgasi yakni 7,3 juta hektar, hanya sekitar 4,2 juta hektar (57,6%) yang dapat dipertahankan fungsinya. Sisanya, sekitar 3,01 juta hektar (42,4%) terancam beralih fungsi ke penggunaan lain.

More: