LP3ES

Monday
Nov 20th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Anas,Demokrat, dan Kaum Muda

E-mail

Di luar manuver-manuver politik yang berlangsung sebelum dan selama kongres, terpilihnya Anas Urbaningrum sebagai Ketua Partai Demokrat sudah dapat diprediksi

Survei LP3ES terhadap elite DPC/DPD bulan Maret 2010 menunjukkan tingkat elektabilitas Anas yang lebih tinggi dibandingkan calon lain. Namun, pada sisi lain, terpilihnya Anas juga sedikit di luar perkiraan. Pasalnya, sosok Anas ditengarai kurang mendapat restu dari elite partai. Bahkan,muncul spekulasi bahwa kongres kelak berakhir antiklimaks dan akan dipilih calon alternatif seperti Menko Polhukam untuk memimpin partai

Nilai Lebih

Terlepas dari spekulasi dan rumor-rumor politik, yang tampak di permukaan Kongres Partai Demokrat  boleh disebut lebih demokratis dibandingkan kongres partai lain. Sebagai partai pemenang Pemilu 2009, Demokrat berani memulai tradisi dengan melakukan regenerasi kepemimpinan kepada tokoh muda

Padahal,dalam dunia kekuasaan, biasanya sangat sulit bagi tokoh senior untuk mengalihkan posisi di kala sedang berkuasa. Tentu elite partai sudah mempertimbangkan pentingnya tokoh muda untuk memimpin terkait dengan tantangan politik ke depan, terutama mempertahankan kemenangan dalam Pemilu Legislatif 2014

Ada dua nilai lebih yang relevan dengan penetapan Anas sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Pertama,Pemilu Legislatif 2009 menunjukkan bahwa jumlah pemilih usia muda (22–29 tahun) mencapai 22,3% atau sekitar 42,1 juta.Dengan struktur kependudukan yang ada sekarang,jumlah pemilih pemula dan kaum muda (17–28 tahun) pada Pemilu 2014 diperkirakan mencapai 47 juta

Umumnya pemilih pemula ini lahir dan tumbuh pada era Reformasi yang kurang atau bahkan tidak mengenal dan memiliki ingatan pada tokoh politik senior yang berjuang melawan ketidakadilan atau penindasan politik selama Orde Baru. Kaum muda ini cenderung memiliki sikap apatis terhadap politik. Hal ini terkait dengan lemahnya pendidikan kewargaan bagi kaum muda sejak era Orde Baru.

Pendidikan semacam ini acap kali dianggap kurang menarik dan membosankan ketimbang matematika, komputer, dan soal-soal yang bersifat nyata. Kalaupun ada pendidikan kewargaan yang diajarkan secara kreatif, biasanya hal itu berubah menjadi indoktrinasi. Implikasinya, kaum muda tumbuh sebagai warga yang aktif (active citizens) dalam bidang sosial-politik menjadi sangat terbatas. Karena itu,wajar saja jika pengetahuannya tentang peran lembaga politik sangat rendah.

Survei LP3ES terhadap persepsi politik kaum muda di lima kota (Maret 2010) menunjukkan bahwa 46,5% anak muda tidak mengetahui peran DPD.Kondisi ini boleh disebut memberi nilai lebih bagi figur Anas dibandingkan tokoh-tokoh politik senior.Pemilih pemula dan anak muda akan jauh lebih memilih pemimpin yang santun, polos, dan merakyat meski masih muda dan kurang memiliki citra heroik pada masa lalu. Selain faktor hubungan psikologis anak muda dengan figur pemimpin muda

Kedua, SBY sebagai Ketua Dewan Pembina masih menjabat sebagai Presiden hingga tahun 2014 sehingga memungkinkan untuk mencurahkan kemampuannya dalam memobilisasi sumber daya bagi penguatan partai. Sekalipun didera kasus-kasus kinerja pemerintah yang kurang bagus seperti kasus Bank Century atau mafia perpajakan, popularitas Presiden SBY dan kepercayaan terhadap pemerintah di mata anak muda relatif masih tinggi

Hampir 55,8% anak muda menilai puas atas kinerja Presiden dan 52,5% memandang jika arah pemerintah sudah benar. Karenanya keberadaan SBY akan menjadi nilai positif bagi Anas sebagai pemimpin Partai Demokrat untuk meningkatkan tingkat elektabilitas partai di mata komunitas pemilih.Perpaduan SBY dan Anas yang memiliki pembawaan santun juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pemilih usia tua yang lebih menyukai kondisi dan cara-cara politik yang tenang dan kedamaian.

Akomodasi Keragaman

Sinyalemen bahwa Anas  lebih sebagai boneka SBY atau Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) barangkali terlalu dini.Keberadaan figur sentral dalam partai bukanlah khas Demokrat,sebab di partai lain juga ada seperti Amien Rais (PAN) atau Prabowo (Gerindra). Hanya saja memang Anas dituntut untuk membuktikan benar atau tidaknya anggapan tersebut.

Salah satunya adalah sejauh mana Anas mampu melakukan konsolidasi semua potensi kekuatan, terutama di dalam partai. Terlebih pascakongres tentu ada benih friksi antara elite pendukung dan lawan politiknya. Masyarakat akan melihat apakah jajaran kepengurusan Partai Demokrat hanya didominasi kelompok tertentu ataukah merepresentasikan keragaman.

Akomodasi keragaman bukan semata dalam struktur kepengurusan, melainkan yang tidak kalah penting adalah meneguhkan dan memperkuat garis politik Partai Demokrat sebagai partai tengah. Hal ini didasari fakta bahwa kemenangan demokrat dalam Pemilu Legislatif 2009 karena basis pemilihnya yang meluas (broad base constituents), baik dari sisi kelompok umur,profesi, pendidikan geografis maupun latar keagamaan

Pembelokan posisi politik ke kiri atau ke kanan bukan saja dikhawatirkan menimbulkan perpecahan dalam elite partai, tetapi juga dapat mengurangi minat masyarakat untuk memilih Demokrat. Mudah-mudahan Anas mampu membuktikan diri sebagai sosok pemimpin politik muda bagi semuanya. Selamat.(*)

Suhardi Suryadi, Direktur LP3ES

Dimuat di Harian Seputar Indonesia 28 Mei 2010

 

Optimalkan Lahan Untuk Ketahanan Pangan

Optimalkan Lahan Untuk Ketahanan Pangan

Oleh: Mahyudi Mahar

Maraknya fenomena alih fungsi lahan pertanian sudah seyogyanya jadi perhatian semua pihak. Sebagai ilustrasi, data terakhir dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air, Departemen Pertanian, menunjukkan bahwa sekitar 187.720 hektar sawah beralih fungsi ke penggunaan lain setiap tahun, terutama di Pulau Jawa. Sementara Badan Pertanahan Nasional, menggambarkan bahwa total lahan sawah beririgasi yakni 7,3 juta hektar, hanya sekitar 4,2 juta hektar (57,6%) yang dapat dipertahankan fungsinya. Sisanya, sekitar 3,01 juta hektar (42,4%) terancam beralih fungsi ke penggunaan lain.

More: