LP3ES

Friday
Jun 23rd
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Darah Muda di Demokrat

E-mail
Fajar Nursahid
ImageKONGRES Partai Demokrat tinggal hitungan hari.Berbeda dengan partai-partai politik lain yang sudah lebih dulu menggelar kongres seperti Golkar, PAN, PDIP, perhelatan politik internal partai pemenang Pemilu 2009 yang akan digelar pada akhir Mei 2010 itu diramaikan tokoh-tokoh muda dalam bursa ketua umum.

 

Hal tersebut menarik perhatian karena partai-partai lain pada pelaksanaan kongres mereka ”gagal” menghasilkan kepemimpinan muda. Sampai hari ini, persaingan tampaknya mengerucut kepada tiga nama, yakni Anas Urbaningrum (AU), Andi Mallarangeng (AM),dan Marzuki Alie (MA).Jika skenario mendorong kepemimpinan anak muda ini berhasil, dapat dikatakan ini merupakan lompatan politik yang patut dicontoh.

Sebab, tidak satu pun partai–– apalagi jika itu tergolong partai besar––yang berani secara sungguh- sungguh mengusung kepemimpinan muda di dalam kongres. Partai Demokrat, setidaknya sampai hari ini, memunculkan sesuatu yang berbeda dengan mendorong figur-figur politikus muda seperti AU (41 tahun) dan AM (47 tahun) untuk berkompetisi menuju puncak kepemimpinan partai.

Figur Muda Sarat Potensi


Munculnya ketiga figur tersebut dalam bursa ketua umum partai bukannya tanpa alasan.Mereka tidak asal disebut atau dijagokan, tetapi benar-benar memiliki modal politik yang signifikan.AU dan MA, misalnya, merupakan dua figur yang memperoleh dukungan tertinggi dari ”arus bawah”Partai Demokrat. Hasil survei LP3ES yang respondennya terdiri atas ketuaketua DPD/DPC se-Indonesia (dilaksanakan pada 1–20 Maret 2010) menunjukkan bahwa AU mendapatkan dukungan sekitar 46% dan MA membayanginya di nomor kedua dengan raihan dukungan 21%.

Sosok AM yang dalam survei ini belum signifikan dukungannya (di bawah 10%) boleh jadi ”meroket” belakangan ini karena masifnya pendekatan ke DPD/DPC pascasurvei. Isyarat dukungan Cikeas juga kentara melalui keterlibatan Ibas Yudhoyono dalam iklan kampanye dan safari ke daerah-daerah meskipun restu SBY juga diklaim AU dan MA. Tak hanya itu, kandidat yang satu ini juga ditopang dengan manajemen kampanye modern yang digawangi konsultan politik terkemuka.

Adanya dinamika internal tersebut, patut diduga, relatif mengubah konstelasi dukungan. Dalam perkembangannya, banyak yang memercayai bahwa pertarungan sesungguhnya dalam bursa Ketua Umum Partai Demokrat tinggal mengerucut pada dua figur saja,yakni AU dan AM. Dengan segala keunggulan dan potensi yang dimiliki kedua tokoh muda ini, Partai Demokrat benar-benar beruntung. Jika kedua tokoh muda ini diduetkan, banyak orang meyakini akan menghasilkan sinergi kekuatan yang luar biasa.

Maka dari itu, pertarungan kedua tokoh muda ini di Demokrat tak ubahnya menentukan nomine atau peringkat; siapa yang harus berperan sebagai orang pertama dan orang kedua? Supaya tidak bingung memilihnya, para pemegang mandat di kongres dapat menimbang kedua figur ini berdasarkan tiga tantangan pokok yang dihadapi figur pemimpin Partai Demokrat ke depan. Pertama, figur yang mampu mempertahankan basis elektoral partai.

Ini merupakan tantangan terberat figur pemimpin partai ke depan. Sebagaimana diketahui,Partai Demokrat telah menorehkan prestasi memenangi pemilu lalu dengan dukungan elektoral sebesar 21%.Ke depan, pemimpin Demokrat harus mampu mempertahankan prestasi ini dan bahkan dituntut untuk bisa meningkatkannya dengan memobilisasi seluruh sumber daya partai. Kedua, figur yang mampu berperan dalam kontestasi kepemimpinan nasional 2014 mendatang.

Dalam kaitan ini, peran pemimpin partai sangat strategis mengingat suksesi kepemimpinan nasional tidak lagi diikuti SBY (karena sudah dua kali masa jabatan). Ketua partai ke depan harus mampu memainkan peran penting ini untuk ”mengamankan” kelanjutan pemimpin nasional ini dengan mendorong kader-kader terbaik partai; bahkan bukan mustahil figur ketua sendiri turut ditimbang dan berkompetisi dengan tokoh-tokoh lain dalam bursa pemimpin nasional.

Ketiga,figur yang mampu membangun partai modern yang berbasis pada sistem. Selama ini, keberhasilan Partai Demokrat sangat bertumpu kepada figur SBY. Oleh karena itu,membenahi jaringan infrastruktur partai dan membangun sistem kaderisasi yang kuat menjadi prioritas yang penting dan menjadi prasyarat mempertahankan prestasi yang telah dicapai partai sekarang ini.

Pesan Politik

Ketika partai-partai lain kurang berani memberikan kesempatan kepada anak-anak muda tampil di tampuk pimpinan, mengapa Partai Demokrat justru berani melakukannya? Pesan politik apa yang dapat kita tangkap di sini? Anak muda adalah aset,bukan saja bagi partai politik, tetapi juga bangsa. Ketika partai politik memberi kesempatan kepada anak-anak muda, itu sama artinya dengan memberi kesempatan kepada mereka untuk ”magang” menjadi pemimpin nasional.

Sebab,salah satu fungsi pokok partai politik adalah menghasilkan kader-kader pemimpin nasional. Munculnya dua figur muda dalam kontestasi pemimpin partai menunjukkan Partai Demokrat selangkah di depan dalam melakukan kaderisasi pemimpin dibandingkan partaipartai lain. Hal ini juga akan membawa manfaat kepada partai mengingat besarnya segmen anak muda dalam politik.

Berdasarkan proyeksi data populasi penduduk (BPS, 2005), jumlah penduduk muda di bawah 40 tahun pada 2009 sekitar 95,7 juta (sekitar 61,5% dari 189 juta penduduk usia pemilih). Sementara itu, kelompok pemilih pemula mencakup 36 juta atau sekitar 19% dari jumlah pemilih. Melalui figur kepemimpinan muda, partai dapat efektif menggarap segmen ini karena sentimen anak muda dapat dibentuk.Anakanak muda dapat melakukan identifikasi terhadap figur-figur politikus muda yang menjadi tokoh kunci partai.

Melalui ini, basis konstituensi partai akan bertambah luas, tidak semata-mata karena faktor SBY sebagai figur sentral selama ini, tetapi bertambah karena ada tokoh muda yang duduk di puncak kepemimpinan partai sebagai ”magnitudo baru”bagi pemilih.Ini artinya lonceng kemenangan semakin dekat untuk dipertahankan.

Munculnya kepemimpinan muda di dalam tubuh Partai Demokrat, jika itu benar-benar terjadi, juga akan menyodok sentimen kemudaan partai-partai lain. Jika Partai Demokrat saja bisa, mengapa mereka tidak? Dengan begitu, laju regenerasi internal partai-partai politik diharapkan lebih dinamis berjalan, memecah kebuntuan politik yang selama ini terjadi.

Akankah Antiklimaks?

Ibarat pertandingan bola, apa yang terjadi menjelang kongres di Partai Demokrat ini adalah ”final impian” antardua kesebelasan favorit. Dua-duanya memiliki keunggulan, sama-sama berpeluang menjadi pemenang.Tinggal bagaimana aturan main ditegakkan; bagaimana kedua tim berkomitmen melakukan fairplay? Kepemimpinan wasit yang adil juga menjadi faktor penentu.

Dalam konteks Kongres Partai Demokrat, kedewasaan tiap pihak diuji untuk tidak melakukan provokasi politik yang merugikan, misalnya kampanye hitam antarkandidat. Ibarat wasit, SBY perlu menjamin kompetisi dapat berlangsung secara fair. Harapan ini begitu besar disampaikan aktivis partai di daerah bahwa SBY sebaiknya hanya menyebut kriteria saja (56,3%) atau bahkan bersikap netral (35,2%).

Hal ini penting untuk menjaga kelangsungan tradisi demokrasi internal Partai Demokrat ini berlangsung demokratis. Suhu politik boleh panas untuk menggairahkan kompetisi, tetapi tidak destruktif satu sama lain.Sebab,jika itu terjadi,bukan mustahil Partai Demokrat akan kehilangan kader-kader potensial. Habis kongres, bukannya bertambah sinergis malah saling membelah diri. Ini artinya, apa yang jamak terjadi pada partaipartai dengan adanya pembelahan pascakongres juga terjadi di Demokrat.Lalu,apakah bedanya? Mudah-mudahan tidak antiklimaks demikian.(*)

FAJAR NURSAHID, Kepala Divisi Penelitian LP3ES  

Artikel ini di muat di harian Seputar Indonesia Edisi 24 April 2010

 

Optimalkan Lahan Untuk Ketahanan Pangan

Optimalkan Lahan Untuk Ketahanan Pangan

Oleh: Mahyudi Mahar

Maraknya fenomena alih fungsi lahan pertanian sudah seyogyanya jadi perhatian semua pihak. Sebagai ilustrasi, data terakhir dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air, Departemen Pertanian, menunjukkan bahwa sekitar 187.720 hektar sawah beralih fungsi ke penggunaan lain setiap tahun, terutama di Pulau Jawa. Sementara Badan Pertanahan Nasional, menggambarkan bahwa total lahan sawah beririgasi yakni 7,3 juta hektar, hanya sekitar 4,2 juta hektar (57,6%) yang dapat dipertahankan fungsinya. Sisanya, sekitar 3,01 juta hektar (42,4%) terancam beralih fungsi ke penggunaan lain.

More: