LP3ES

Tuesday
Nov 21st
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

PAN di Bawah Naungan Hatta

E-mail
ImageOleh: Suhardi Suryadi

Kongres III Partai Amanat Nasional tanggal 7–9 Januari 2010 berakhir antiklimaks dengan terpilihnya Hatta Rajasa sebagai Ketua Umum secara aklamasi.


Pemilihan ketua yang diperkirakan berlangsung ketat antara figur koalisi pemerintah (Hatta) dan oposisi pemerintah (Drajad) berubah menjadi permisif setelah adanya mediasi–jika tidak dapat disebut intervensi–dari Amien Rais, yang mendorong Drajad mengundurkan diri sebagai calon ketua. Hal ini mengisyaratkan betapa kepemimpinan paternalistis dalam tubuh PAN masih kental.

 

Terlepas dari proses pemilihan yang tidak dinamis, nampaknya penetapan Hatta sebagai ketua bukan saja untuk meningkatkan posisi PAN dalam pemilu akan datang,namun juga secara tersirat bertujuan mempersiapkan Hatta sebagai calon presiden dalam Pilpres 2014.Mengingat dalam pilpres nanti, para tokoh politik muda diprediksi akan lebih memiliki peluang ketimbang yang berusia tua. Yang menjadi pertanyaan,mampukah Hatta mengembangkan PAN sebagai salah satu kekuatan politik alternatif yang menjanjikan perubahan dan kemajuan bagi bangsa dalam kesejahteraan, keadilan, dan demokrasi.

Akar yang Rapuh

Me-review sejarahnya, pendirian PAN sangatlah menjanjikan. Dimotori Amien Rais dan sejumlah tokoh dan intelektual muslim dan sekuler yang memiliki integritas, partai ini diprediksi sebagai satu di antara partai pemenang pemilu legislatif 1999.Termasuk peluang ketua umumnya sebagai presiden.

Namun, realitas politik berbeda. Ternyata PAN hanya mampu meraih suara 7,12% dari total pemilih dan Amien Rais cukup sebagai Ketua MPR. Bukan saja dalam pemilu, kegagalan PAN sebagai partai politik terbuka juga ditandai dengan mundurnya beberapa pendiri partai yang berasal dari unsur intelektual dan masyarakat sipil seperti Th Sumartana,Faisal Basri,Zumrotin dan lainnya.Identitas PAN sebagai partai plural mulai luntur dan berubah menjadi partai yang pemilihnya adalah komunitas Muhammadiyah. Implikasinya, perolehan suara PAN dalam Pemilu 2004 semakin menurun menjadi 6,44% dan kalah dibandingkan perolehan partai berbasis islam lainnya seperti PPP (8,15%), dan PKB (10,57%).

Bahkan,Ketua Umum PAN gagal mendapatkan dukungan pemilih dalam Pemilihan Presiden 2004 putaran pertama.Kesemua ini menjadi indikasi bahwa publik belum sepenuhnya mempercayai PAN sebagai kekuatan politik yang mampu membawa agenda reformasi di bidang sosial,ekonomi,dan politik. Dalam pemilu legislatif 2009, perolehan suara PAN sedikit menurun dibanding 2004 yaitu sebesar 6.01%.

Image
antarafoto.com
Sekalipun demikian,PAN di bawah kepemimpinan Sutrisno Bachir telah mampu meletakkan dasar-dasar sebagai partai yang memiliki komunitas pemilih yang lebih meluas dari segi latar belakangnya bukan lagi didominasi kaum elit dan masyarakat terdidik perkotaan serta warga Muhammadiyah semata. Hasil exit poll LP3ES, 2009,menunjukkan bahwa pemilih PAN berasal dari pedesaan (65,8%), berpendidikan SLTA ke bawah (85,6%),dan bahkan berasal dari warga NU (22,9%).

Dengan potret pemilih 2009, PAN sesungguhnya sudah memiliki potensi konstituen yang relatif lebih luas dari sisi geografi, pendidikan, dan latar belakang sosial dibandingkan partai-partai Islam lainnya.Meskipun demikian, akar pemilih PAN yang meluas ini masih rapuh karena bukan merupakan pemilih fanatik (die hard voter).

Di samping itu, PAN sendiri juga belum memiliki identitas politik yang dapat mengikat komunitas pemilih. Misalnya seperti PKB yang diidentikkan dengan partai plural dengan pemilih nahdiyin terutama di Jawa, PKS identik dengan partai yang pemilihnya kaum muslim terdidik perkotaan yang puritan maupun PDIP identik dengan partai nasionalis dengan basis pemilih wong cilik dan kaum abangan.

Citra Reformis


Melihat kondisi riil tersebut, maka menurut hemat saya,ada tiga tantangan pokok bagi PAN ke depan. Pertama, bagaimana memperkuat basis pemilih melalui penguatan relasi dan jaringan sosial baru. Intensitas komunikasi dengan kelompok pemilih pemula, kaum profesional, dan bahkan organisasi masyarakat sipil menjadi penting bagi PAN setelah ditinggalkan oleh pemilih tradisionalnya yaitu komunitas Muhammadiyah, Terlebih organisasi kemasyarakatan yang merupakan kelompok induk organisasi (kino) PAN kurang cukup efektif sebagai mesin politik di tingkat bawah.

Kedua, bagaimana meningkatkan keberadaan DPD di semua kabupaten dan kader-kader di kecamatan yang tidak semata aktif ketika masa pemilu dan pilkada melainkan menjalankan fungsi-fungsi partai dalam pendidikan politik, artikulasi kepentingan pemilih hingga memperjuangkan persoalan masyarakat. Misal saja masalah penggusuran, konflik tanah, dan lainnya. Ini berarti, sistem rekrutmen dan seleksi pengurus DPD dan kader selayaknya dipilih personel yang memiliki kemampuan politik, jujur dan bersih, dan bersedia mengalokasikan waktunya untuk membangun partai.

Ketiga,memantapkan identitas PAN sebagai partai reformis melalui perbaikan kinerja wakil-wakilnya di DPR/DPRD terutama dalam merespons secara kritis setiap bentuk kebijakan pemerintah yang dinilai tidak adil dan merugikan bangsa dan Negara.Hal ini niscaya akan menjadi modal awal bagi kebangkitannya.Sayangnya justru pada poin ketiga inilah yang mungkin sulit dilakukan mengingat posisi Hatta sebagai bagian dari pemerintah.(*)

Artikel ini pernah dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi 21 Januari 2010

 

Optimalkan Lahan Untuk Ketahanan Pangan

Optimalkan Lahan Untuk Ketahanan Pangan

Oleh: Mahyudi Mahar

Maraknya fenomena alih fungsi lahan pertanian sudah seyogyanya jadi perhatian semua pihak. Sebagai ilustrasi, data terakhir dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air, Departemen Pertanian, menunjukkan bahwa sekitar 187.720 hektar sawah beralih fungsi ke penggunaan lain setiap tahun, terutama di Pulau Jawa. Sementara Badan Pertanahan Nasional, menggambarkan bahwa total lahan sawah beririgasi yakni 7,3 juta hektar, hanya sekitar 4,2 juta hektar (57,6%) yang dapat dipertahankan fungsinya. Sisanya, sekitar 3,01 juta hektar (42,4%) terancam beralih fungsi ke penggunaan lain.

More: