LP3ES

Tuesday
Nov 21st
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Proses Pemungutan Suara Relatif Baik,SBY Kembali Terpilih Sebagai Presiden, Pilpres Satu Putaran

E-mail

 

Pemantauan Quick Count LP3ES pada Pemilu Presiden/Wakil Presiden hari ini  memperkirakan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia 2009-2014 mendatang. SBY yang berpasangan dengan Boediono sebagai Wakil Presiden memperoleh dukungan sebesar 60,28% jauh mengungguli kedua pasangan kandidat lainnya yakni Megawati-Prabowo dengan perolehan suara 27,4% dan Jusuf Kalla-Wiranto  12,32 % (Tabel 1).

 

Selain mendulang dukungan tertinggi melampaui separuh jumlah pemilih secara nasional, pasangan SBY-Boediono diperkirakan memenangi perolehan suara lebih dari 20% di 33 provinsi. Dengan demikian, Pemilihan Presiden diperkirakan berlangsung hanya satu putaran. 

Tabel 1.

Proyeksi Perolehan Suara Pasangan Capres/Cawapres

 

Pasangan

Proyeksi Perolehan Suara

1. Megawati-Prabowo

27,40%

2. SBY-Boediono

60,28%

3. JK-Wiranto

12,32 %





Perkiraan ini didasarkan pada penghitungan cepat (quick count) LP3ES hasil pemungutan suara secara nasional yang dilakukan LP3ES. Dasar penghitungan ini adalah data yang diperoleh dari pemantauan dan pencatatan hasil penghitungan suara di 1890 TPS (90,45% dari Total TPS sampel) yang tersebar di seluruh Indonesia. TPS-TPS tersebut dipilih secara acak menurut metodologi statistik yang sudah diterima secara internasional dan terbukti akurat di sejumlah negara dalam, termasuk di Indonesia pada Pemilihan Umum bulan April 2009 lalu. Ambang batas kesalahan dari perkiraan di atas adalah +/- 1 persen poin pada tingkat kepercayaan 95%.  

Hasil pemantauan Quick Count juga mengungkapkan tingkat partisipasi masyarakat dalam Pilpres kali ini cukup baik. Dari total pemilih yang terdaftar di DPT maupun pemilih tambahan dengan menggunakan KTP, sekitar 72% yang memberikan suaranya. Dengan demikian, tidak ada peningkatan partisipasi jika dibandingkan dengan Pemilu Legislatif April 2009 lalu.  

Pemilu berjalan dengan lancar tanpa masalah yang signifikan. Sebagian besar (84,5%) Pemantau LP3ES menilai bahwa proses pemungutan dan penghitungan suara berlangsung secara jujur dan adil. Indikasi lainnya terkait dengan kualitas proses yang terjadi adalah: 96,4% tidak ada intimidasi atau protes dengan kekerasan di dalam maupun di luar, umumnya TPS (93,2%) ditutup pada waktunya, pemeriksaan KTP dilakukan secara ketat (74%), pengecekan jari pemilih yang menggunakan hak suaranya sebesar 68,1%.

Terkait dengan Pemilu Presiden yang berlangsung hari ini, sebagian besar (81,8%) masyarakat memandang optimis bahwa Pemilu akan membawa perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang.

LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) adalah sebuah lembaga non pemerintah, nirlaba dan independen yang didirikan pada tahun 1971. Sejak 1993 LP3ES telah melakukan berbagai penelitian kuantitatif, termasuk survei pendapat umum. LP3ES telah melakukan perkiraan hasil pemilu menggunakan metode Quick Count pada tahun 1997 di wilayah DKI Jakarta, tahun 1999 di Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Pemilu 2004 dan Pemilu Legislatif April 2009. Quick Count ini dilaksanakan oleh LP3ES bekerja sama dengan RCTI.
 
 
Informasi lebih lanjut harap menghubungi:
 
Fajar Nursahid
Kepala Divisi Penelitian LP3ES
Jl. S. Parman No. 81 Jakarta
Telepon (021) 567-4211, 563-0233
Email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it  
 

Optimalkan Lahan Untuk Ketahanan Pangan

Optimalkan Lahan Untuk Ketahanan Pangan

Oleh: Mahyudi Mahar

Maraknya fenomena alih fungsi lahan pertanian sudah seyogyanya jadi perhatian semua pihak. Sebagai ilustrasi, data terakhir dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air, Departemen Pertanian, menunjukkan bahwa sekitar 187.720 hektar sawah beralih fungsi ke penggunaan lain setiap tahun, terutama di Pulau Jawa. Sementara Badan Pertanahan Nasional, menggambarkan bahwa total lahan sawah beririgasi yakni 7,3 juta hektar, hanya sekitar 4,2 juta hektar (57,6%) yang dapat dipertahankan fungsinya. Sisanya, sekitar 3,01 juta hektar (42,4%) terancam beralih fungsi ke penggunaan lain.

More: