LP3ES

Friday
Sep 22nd
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Menyelami Angka di Balik Quick Count

E-mail

 

ImageHajatan besar demokrasi lima tahunan untuk memilih wakil-wakil rakyat baru saja usai.Meski hasil resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) baru akan diumumkan sekitar sebulan kemudian, melalui penghitungan suara secara paralel dengan menggunakan TPS sampel atau yang lebih populer disebut sebagai penghitungan cepat (quick count), hasil perolehan suara partai-partai peserta pemilu dapat diprediksi secara cepat dan akurat.

 

Pada Pemilu 2009 ini, sejumlah lembaga melakukan penghitungan cepat satu di antaranya LP3ES, yang memadukan kegiatan quick count dengan exit poll, survei perilaku pemilih yang ditujukan kepada masyarakat yang baru saja menggunakan hak pilihnya dari bilik suara.

Peta Politik Tiga Lapis

Seperti diperkirakan sejumlah survei, Pemilu Legislatif 2009 menghasilkan peta politik tiga lapis yakni lapis atas,tengah,dan bawah. Hasil final quick count LP3ES mengonfirmasi prediksi tersebut, di mana tiga partai memimpin perolehan suara di lapis atas yakni Partai Demokrat (19,6%), Golkar (14,9%), dan PDIP (14,5%).

Papan tengah dihuni oleh enam partai lain yang melampaui parliamentary threshold sebesar 2,5% yakni PKS (7,6%), PAN (5,7%), PKB ( 5,5%), PPP (5,2%), Gerindra (4,5%),dan Hanura (3,7%).Sementara sisanya adalah partai-partai lapis bawah yang terdiri atas 29 partai politik dengan perolehan suara kurang dari 2,5%. Meski secara kategoris peta politik terbagi ke dalam tiga lapis,dinamika pada masing-masing lapis pun sesungguhnya masih mungkin terjadi karena selisihnya yang sangat dekat dan berada dalam toleransi batas kesalahan (+/- 1%).

Sebagai contoh, pada lapis atas, Golkar yang hanya ”unggul” 4% poin atas PDIP,bukan tidak mungkin dalam perolehan nyata nantinya bisa sebaliknya.Demikian pula pada lapis tengah,di mana tiga partai politik (PAN,PKB,PPP) pun sangat dekat selisihnya. Oleh karena masih berada dalam toleransi batas kesalahan, mungkin pula ketiganya akan saling sodok menggantikan posisi masing-masing.Tentu saja, yang paling ideal, prediksi quick count dapat nyata-nyata sesuai hasil resmi KPU di kemudian hari.

Mengapa Partai Demokrat Melejit ?

Salah satu faktor penting yang memengaruhi perolehan suara Partai Demokrat secara signifikan adalah figur SBY sebagai figur kunci. Tak dipungkiri,SBY merupakan sosok yang relatif paling populer dibandingkan tokoh-tokoh politik lainnya.

Tak hanya itu, popularitas SBY juga sehaluan dengan elektabilitasnya yang relatif tinggi dibandingkan figur-figur politik lain yang disebut-sebut maju dalam bursa calon presiden mendatang. Hasil survei LP3ES per Desember 2008, misalnya,menunjukkan bahwa masyarakat yang menyukai SBY relatif banyak (36,2%), yang menganggapnya paling layak lebih banyak lagi (37,3%), dan yang akan memilihnya bertambah banyak lagi (38,1%).

Hal yang berkebalikan terjadi pada figur Megawati sebagai ”rival” terberat SBY, di mana capaian tokoh kunci PDIP pada ketiga aspek tersebut mentok di angka 17%, bahkan cenderung menurun. Faktor penting SBY ini sangat disadari oleh Partai Demokrat sehingga kita lihat dalam setiap iklan kampanye, SBY selalu menjadi ikon yang ”dijual”. Nyatanya, hal ini membawa hasil positif yang besar karena masyarakat lalu mengidentikkan figur SBY dengan Partai Demokrat.

Hasilnya, luar biasa. Partai Demokrat berhasil ”mencuri” pendukung partai-partai lain, baik partai dari lapis atas maupun lapis tengah. Hasil exit poll LP3ES menunjukkan peningkatan perolehan suara Partai Demokrat secara signifikan disumbang oleh pendukung partai-partai lain seperti Partai Golkar (13,4%),PDIP (8,7%), PPP (11,9%), PKS (9,1%), dan PAN (7,3%).Akibatnya, perolehan suara partai-partai ini pun turun sangat berarti.Golkar dan PDIP bahkan tergusur dari kursi pemenang dan runner-up Pemilu 2004 karena tidak mampu mempertahankan dukungan para pemilihnya.

Hanya 35,8% pemilih Golkar dan 38,6% pemilih PDIP yang masih setia mendukung partai tersebut pada Pemilu 2009 ini. Data yang dihimpun LP3ES melalui quick countjuga menunjukkan bahwa dominasi Partai Demokrat berlangsung merata pada hampir semua kategori wilayah seperti Sumatera,DKI-Banten,Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Di Sumatera dominasi Partai Demokrat mencapai 20,8%,mengalahkan Golkar(15,5%). Di DKI Jakarta dan Banten,Partai Demokrat jauh unggul (26,1%) dibandingkan PKS (14,1%).Di Jawa Barat, Partai Demokrat juga mendulang 22,8% suara,mengalahkan Golkar (16,1%).Sementara di Jawa Timur, Partai Demokrat memperoleh 20,3% suara, mengungguli PDIP (15,7%).

Meski demikian, di wilayah Jawa Tengah-DIY Partai Demokrat (15,4%) dikalahkan PDIP yang memperoleh 20,2% suara, demikian pula di wilayah Bali danIndonesia Timur Partai Demokrat (15,6%) tidak bisa mengungguli dominasi PDIP (20,8%) dan Golkar (17,6%). Sementara di wilayah Kalimantan- Sulawesi, dominasi Partai Golkar (20,9%) tidak mampu dibendung oleh Demokrat karena hanya memperoleh dukungan sebesar 14,4%.

Melejitnya perolehan suara Partai Demokrat pada Pemilu 2009 merupakan ”kejutan”kedua yang ditoreh partai ini. Pada Pemilu 2004, partai yang sama sekali baru ini juga mengejutkan banyak pihak karena mendulang 7,4% suara, mengalahkan sejumlah partai seperti PKS (7,3%),PAN (6,4%), dan PBB (2,6%) yang eksis terlebih dulu, bahkan hampir menyamai partai yang telah berumur panjang seperti PPP yang saat itu memperoleh dukungan sebesar 8,1%.Kali ini kejutan politik juga dibuat Partai Demokrat karena berhasil melakukan lompatan politik yang menjadikannya pemenang pemilu.

Pelajaran Penting

Proyeksi hasil Pemilu 2009 melalui quick count yang ditandai dengan kemenangan Partai Demokrat serta hanya sembilan partai saja yang mampu menembus parliamentary threshold, termasuk di dalamnya dua partai baru membawa pesan penting kepada kita, khususnya para penggiat politik bahwa ”pasar politik” sudah jenuh.

Masyarakat kita sudah tidak tergiur lagi dengan tawaran berbagai model partai politik yang secara signifikan tidak ada bedanya.Hanya beda warna baju dan lambang! Mungkin sudah tiba pula waktunya para politisi bersikap realistis dan tidak memaksakan diri untuk selalu eksperimen bongkar-pasang partai setiap kali masa pemilu. Karena masyarakat toh tahu juga bahwa pelakunya itu-itu saja.

Yang ditawarkan toh juga itu-itu lagi. Bukankah gagalnya 29 partai politik dalam meraup dukungan dan mandat dari rakyat pada pemilu kali ini sudah cukup bukti untuk tahu diri? Bahwa ternyata mendirikan partai politik dan lalu mendapatkan kepercayaan rakyat tidaklah mudah.(*)

 

Fajar Nursahid
Team Leader Program Quick Count LP3ES untuk Pemilu 2009 

 

Dimuat di Koran Sindo Edisi  11 April 2009

 

Optimalkan Lahan Untuk Ketahanan Pangan

Optimalkan Lahan Untuk Ketahanan Pangan

Oleh: Mahyudi Mahar

Maraknya fenomena alih fungsi lahan pertanian sudah seyogyanya jadi perhatian semua pihak. Sebagai ilustrasi, data terakhir dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air, Departemen Pertanian, menunjukkan bahwa sekitar 187.720 hektar sawah beralih fungsi ke penggunaan lain setiap tahun, terutama di Pulau Jawa. Sementara Badan Pertanahan Nasional, menggambarkan bahwa total lahan sawah beririgasi yakni 7,3 juta hektar, hanya sekitar 4,2 juta hektar (57,6%) yang dapat dipertahankan fungsinya. Sisanya, sekitar 3,01 juta hektar (42,4%) terancam beralih fungsi ke penggunaan lain.

More: