LP3ES

Friday
Jun 23rd
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Sumberdaya Air dan Lingkungan

E-mail

Image Dalam sebuah penggal sejarah pada dekade 1980-an, isu dan gagasan partisipasi masyarakat pernah mencuat dan berkembang subur dalam konteks irigasi, salah satu jenis pendayagunaan sumberdaya air untuk kepentingan rakyat petani. Gagasan tersebut muncul sebagai kritik dan sekaligus koreksi atas praktek pengelolaan dan pendayagunaan air irigasi yang selalu dominan dikuasai oleh pemerintah sebagai representasi dari peran negara. Seiring dengan peran aktif LP3ES untuk mengembangkan pendekatan partisipatif dalam pembangunan dan pengelolaan irigasi maka dirintislah pendirian Pusat Studi dan Pengembangan Irigasi (PSPI) pada tahun 1989. Lewat PSPI, peran dan aktivitas LP3ES terus diperkuat dan dikembangkan untuk ikut mewarnai kebijakan pemerintah dan praktek pengelolaan serta pendayagunaan air irigasi yang partisipatif.  

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan strategis dan tampak semakin jelas pada 1990-an mendorong PSPI untuk melakukan reorientasi dan merumuskan kembali visi serta misinya. Salah satu dampak perubahan lingku-ngan strategis yang dimaksud antara lain semakin meningkatnya kompetisi atas air sehingga kaitan antar jenis penggunaan air tak bisa lagi diabaikan. Diperlukan wawasan yang lebih utuh dan menyeluruh untuk melihat persoalan sumberdaya air . air. 

Pada tahun 1995, PSDAL lahir sebagai hasil dari proses reorientasi. Kelahiran PSDAL ini sekaligus menegaskan komitmen untuk senantiasa mengupayakan terwujudnya sistem dan praktek pengelolaan dan pendayagunaan sumberdaya air dan lahan yang adil untuk kesejahteraan rakyat .
Pengelolaan dan pendayagunaan tersebut hendaknya mampu mendatangkan manfaat yang dapat terus dipertahankan. Oleh karena itu keberlanjutan dan kelestarian sumberdaya air dan lahan termasuk dimensi kepentingan yang ingin diupayakan oleh PSDAL-LP3ES.


 

Water Resources and Environment

At one point of the history of the 1980s, the issue and idea of people’s participation emerged and thrived in the context of irrigation, which was one form of the utilization of water resources for the interests of farmers. The idea surfaced as a criticism and correction over practices of the management and utilization of irrigation water, which was always controlled by the government that represented the role of the state. In line with LP3ES’s active participation in the development of participatory approaches in irrigation development and management, the institute initiated the formation of  Irrigation Study and Development Center (PSPI), in 1989. Through PSPI, LP3ES’ roles and activities were constantly enhanced and developed so as to give certain “colors” to government policies and practices of the management of water resources for irrigation in a participatory way.

Changes taking place in strategic environments and became even more apparent in the 1990s incited PSPI to revise its orientation and reformulate its vision and mission.  One impact of the changes of strategic environments was rising competition over water resources so that relationships between different sorts of water utilization could no longer be ignored. More integrated and  full understanding was needed to perceive water resources issues.

In 1995, PSDAL was born as a result of the reorientation move. It stressed the commitment to always trying to create just systems and practices for water resources management and utilization for people’s welfare. Such water resources management and utilization should be able to benefit people and also should be continued. Accordingly, continuity and sustainability of water resources and land were  included in the dimension of interests struggled for by PSDAL-LP3ES.

 

Optimalkan Lahan Untuk Ketahanan Pangan

Optimalkan Lahan Untuk Ketahanan Pangan

Oleh: Mahyudi Mahar

Maraknya fenomena alih fungsi lahan pertanian sudah seyogyanya jadi perhatian semua pihak. Sebagai ilustrasi, data terakhir dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air, Departemen Pertanian, menunjukkan bahwa sekitar 187.720 hektar sawah beralih fungsi ke penggunaan lain setiap tahun, terutama di Pulau Jawa. Sementara Badan Pertanahan Nasional, menggambarkan bahwa total lahan sawah beririgasi yakni 7,3 juta hektar, hanya sekitar 4,2 juta hektar (57,6%) yang dapat dipertahankan fungsinya. Sisanya, sekitar 3,01 juta hektar (42,4%) terancam beralih fungsi ke penggunaan lain.

More: